Kamis, 03 Desember 2015

KISAH TELADAN KHULAFAUR RASYIDIN




1.Kisah Teladan Khalifah Abu Bakar ash-Shidiq
Kerendahan Hati Abu Bakar ash-Shiddiq
     Suatu hari Umar mengamati Abu Bakar Ash-Shiddiq di waktu fajar. Sesuatu telah menarik perhatian Umar. Saat Abu Bakar pergi ke pinggiran kota Madinah setelah shalat Subuh, Abu Bakar mendatangi sebuah gubuk kecil untuk beberapa saat, lalu dia pulang kembali ke rumahnya. Umar tidak mengetahui apa yang ada di dalam gubuk itu dan apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Umar mengetahui seluruh kebaikan yang dilakukan oleh Abu Bakar, kecuali rahasia urusan gubuk itu.
     Hari-hari terus berjalan. Abu Bakar Ash-Shidiq tetap mengunjungi gubuk kecil di pinggiran kota itu. Umar tetap belum mengetahui apa yang dilakukan oleh Abu Bakar di sana. Sampai akhirnya Umar memutuskan untuk masuk ke dalam gubuk itu sesaat setelah Abu Bakar meninggalkannya. Umar ingin melihat apa yang ada di dalam gubuk itu dengan matanya sendiri. Dia ingin mengetahui apa yang dilakukan oleh sahabatnya disitu.
     Manakala Umar masuk ke dalam gubuk kecil itu, Umar mendapatkan seorang nenek tua yang lemah tanpa bisa bergerak. Nenek itu juga buta kedua matanya. Tidak ada sesuatu pun di dalam gubuk kecil itu. Umar tercengang dengan yang dilihatnya. Dia ingin mengetahui ada hubungan apa nenek tua ini dengan Abu Bakar radhiallahu’anhu. Umar bertanya, “Apa yang dilakukan laki-laki itu (Abu Bakar) di sini?”. Nenek tua itu menjawab, “Demi Allah, aku tidak mengenalnya, wahai anakku. Setiap pagi dia datang, membersihkan rumahku ini dan menyapunya. Dia menyiapkan makan untukku. Kemudian dia pergi tanpa berbicara apapun denganku.” Umar menekuk kedua lututnya, kedua matanya basah oleh air mata. Kemudian ia mengucapkan kalimatnya yang masyhur, “Wahai Abu Bakar, sungguh engkau telah membuat lelah para khalifah sesudahmu.” (maksudnya, khalifah berikutnya sesudah kekhalifahan Abu Bakar harus bekerja lebih keras agar mampu menandingi kualitas kekhalifahan Abu Bakar).

Abu Bakar ash-Shiddiq, Si Pemerah Susu
    
     Ada seorang lelaki yang selalu membantu memerah susu dan memasak gandum di perkampungan Madinah. Laki-laki itu datang ke rumah-rumah para janda tua untuk membantu memerah susu kambing atau unta. Ia juga membantu anak-anak yatim memasak gandum menjadi roti. Sejak Abu Bakar ash-Shiddiq menjadi khalifah, laki-laki itu tidak pernah datang lagi.
     Abu Bakar ash-Shiddiq adalah sahabat Rasulullah. Ia memeluk agama Islam sejak Rasulullah mendakwahkan agama itu di Mekah. Sebagai seorang saudagar kaya, harta Abu Bakar banyak digunakan untuk perjuangan Islam. Ia membeli budak-budak yang disiksa majikannya karena ketahuan memeluk agama Islam. Budak-budak yang dibeli itu lalu dimerdekakan. Saat Rasulullah hijrah ke Madinah, Abu Bakar mengikuti beliau. Kemudian Abu Bakar menjadi khalifah sejak Rasulullah wafat.
Suatu hari ada seorang gadis kecil membawa wadah untuk menampung susu kambing. Ia mengeluh karena pekerjaan itu terlalu berat baginya.
“Orang yang selalu membantu memerah susu itu tidak datang lagi, ya Ummi!” katanya. “ Kalau dia datang, dia akan membantu kita memerah susu.”
“Sudahlah, kita kerjakan sendiri saja,” kata ibu anak itu.
Tak lama kemudian, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah itu.
“Assalamu’alaikum!” orang itu mengucapkan salam.
“Waalaikumsalam!” seru gadis kecil itu seraya berlari ke pintu rumahnya.
Si gadis kecil membuka pintu. Ia melihat laki-laki pemerah susu itu berdiri di depan rumahnya. Laki-laki pemerah susu itulah yang mengucapkan salam.
“Mari kuperahkan susu kambingmu, Nak,” kata laki-laki itu.
Si gadis kecil melonjak gembira. Pemerah susu itu datang lagi untuk memerahkan susu kambingnya.
“Ummi! Pemerah susu itu datang lagi!” seru gadis kecil itu. Ibunya bergegas keluar. Ia terkejut melihat pemerah susu itu.
“Celaka kau, anakku!” serunya. “Kau tidak tahu siapa tamu ini?”
“Dia pemerah susu yang selalu membantu kita, Ummi!”
“Dia orang yang mulia, anakku. Dialah Khalifah Abu Bakar!”
Memang benar, orang itu adalah Khalifah Abu Bakar. Dialah kepala negara dan pemimpin umat Islam. Dialah yang dulu selalu memerah susu dan memasak gandum untuk membantu para janda tua dan anak yatim.
“Ya Amirul Mukminin,” kata ibu anak itu. “Maafkan anak perempuanku. Dia tidak tahu siapa engkau,”
“Tidak apa-apa, kata Khalifah Abu Bakar seraya tersenyum. “Anak itu telah menggambarkan aku dan amalku yang paling disukai Allah,”
Gadis kecil itu ketakutan. Pemerah susu yang selalu membantunya itu sekarang menjadi khalifah.
“ Mari Nak, kuperahkan susu kambingmu!” kata Khalifah Abu Bakar.
Khalifah Abu Bakar benar-benar memerahkan susu kambing di rumah itu. Lalu ia pergi ke rumah lainnya untuk memerah susu juga. Ia juga pergi ke rumah-rumah anak yatim untuk memasakkan gandum.
Khalifah Abu Bakar selalu melakukan itu meskipun dia telah menjadi kepala negara dan pemimpin umat Islam.

Diunduh pada tanggal 4 April 2014 pukul 20.32


2.Kisah Teladan Khalifah Umar bin Khattab
Khalifah Umar Dan Gadis Jujur
Khalifah Umar bin Khattab sering melakukan ronda malam sendirian. Sepanjang malam ia memeriksa keadaan rakyatnya langsung dari dekat. Ketika melewati sebuah gubuk, Khalifah Umar merasa curiga melihat lampu yang masih menyala. Di dalamnya terdengar suara orang berbisik-bisik.
Khalifah Umar menghentikan langkahnya. Ia penasaran ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan. Dari balik bilik Khalifah umar mengintipnya. Tampaklah seorang ibu dan anak perempuannya sedang sibuk mewadahi susu.
"Bu, kita hanya mendapat beberapa kaleng hari ini," kata anak perempuan itu.
"Mungkin karena musim kemarau, air susu kambing kita jadi sedikit."
"Benar anakku," kata ibunya.
"Tapi jika padang rumput mulai menghijau lagi pasti kambing-kambing kita akan gemuk. Kita bisa memerah susu sangat banyak," harap anaknya.
"Hmmm... sejak ayahmu meninggal penghasilan kita sangat menurun. Bahkan dari hari ke hari rasanya semakin berat saja. Aku khawatir kita akan kelaparan," kata ibunya.
Anak perempuan itu terdiam. Tangannya sibuk membereskan kaleng-kaleng yang sudah terisi susu.
"Nak," bisik ibunya seraya mendekat. "Kita campur saja susu itu dengan air. Supaya penghasilan kita cepat bertambah."
Anak perempuan itu tercengang. Ditatapnya wajah ibu yang keriput. Ah, wajah itu begitu lelah dan letih menghadapi tekanan hidup yang amat berat. Ada rasa sayang yang begitu besar di hatinya. Namun, ia segera menolak keinginan ibunya.
"Tidak, bu!" katanya cepat.
"Khalifah melarang keras semua penjual susu mencampur susu dengan air." Ia teringat sanksi yang akan dijatuhkan kepada siapa saja yang berbuat curang kepada pembeli.
"Ah! Kenapa kau dengarkan Khalifah itu? Setiap hari kita selalu miskin dan tidak akan berubah kalau tidak melakukan sesuatu," gerutu ibunya kesal.
"Ibu, hanya karena kita ingin mendapat keuntungan yang besar, lalu kita berlaku curang pada pembeli?"
"Tapi, tidak akan ada yang tahu kita mencampur susu dengan air! Tengah malam begini tak ada yang berani keluar. Khalifah Umar pun tidak akan tahu perbuatan kita," kata ibunya tetap memaksa.
"Ayolah, Nak, mumpung tengah malam. Tak ada yang melihat kita!"
"Bu, meskipun tidak ada seorang pun yang melihat dan mengetahui kita mencampur susu dengan air, tapi Allah tetap melihat. Allah pasti mengetahui segala perbuatan kita serapi apa pun kita menyembunyikannya, "tegas anak itu. Ibunya hanya menarik nafas panjang.
Sungguh kecewa hatinya mendengar anaknya tak mau menuruti suruhannya. Namun, jauh di lubuk hatinya ia begitu kagum akan kejujuran anaknya.
"Aku tidak mau melakukan ketidakjujuran pada waktu ramai maupun sunyi. Aku yakin Allah tetap selalu mengawasi apa yang kita lakukan setiap saat,"kata anak itu.
Tanpa berkata apa-apa, ibunya pergi ke kamar. Sedangkan anak perempuannya menyelesaikan pekerjaannya hingga beres.
Di luar bilik, Khalifah Umar tersenyum kagum akan kejujuran anak perempuan itu.
"Sudah sepantasnya ia mendapatkan hadiah!" gumam khalifah Umar. Khalifah Umar beranjak meninggalkan gubuk itu. Kemudian ia cepat-cepat pulang ke rumahnya.
Keesokan paginya, khalifah Umar memanggil putranya, Ashim bin Umar. Diceritakannya tentang gadis jujur penjual susu itu.
"Anakku, menikahlah dengan gadis itu. Ayah menyukai kejujurannya, " kata khalifah Umar.
"Di zaman sekarang, jarang sekali kita jumpai gadis jujur seperti dia. Ia bukan takut pada manusia. Tapi takut pada Allah yang Maha Melihat."
Ashim bin Umar menyetujuinya.
Beberapa hari kemudian Ashim melamar gadis itu. Betapa terkejut ibu dan anak perempuan itu dengan kedatangan putra khalifah. Mereka mengkhawatirkan akan ditangkap karena suatu kesalahan.
"Tuan, saya dan anak saya tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjual susu. Tuan jangan tangkap kami," sahut ibu tua ketakutan.
Putra khalifah hanya tersenyum. Lalu mengutarakan maksud kedatangannya hendak menyunting anak gadisnya.
"Bagaimana mungkin?
Tuan adalah seorang putra khalifah, tidak selayaknya menikahi gadis miskin seperti anakku," kata ibu itu dengan perasaan ragu.
"Khalifah adalah orang yang tidak membedakan manusia. Sebab, hanya ketaqwaanlah yang meninggikan derajat seseorang disisi Allah," kata Ashim sambil tersenyum.
"Ya. Aku lihat anakmu sangat jujur," kata Khalifah Umar.
Anak gadis itu saling berpandangan dengan ibunya.
Bagaimana khalifah tahu? Bukankah selama ini ia belum pernah mengenal mereka.
"Setiap malam aku suka berkeliling memeriksa rakyatku. Malam itu aku mendengar pembicaraan kalian." jelas khalifah Umar.
Ibu itu bahagia sekali. Khalifah Umar ternyata sangat bijaksana. Menilai seseorang bukan dari kekayaan tapi dari kejujurannya.
Sesudah Ashim menikah dengan gadis itu, kehidupan mereka sangat bahagia. Keduanya membahagiakan orangtuanya dengan penuh kasih sayang. Beberapa tahun kemudian mereka dikaruniai anak dan cucu yang kelak akan menjadi orang besar dan memimpin bangsa Arab.

Diunduh pada tanggal 1 April 2014 pukul 19.17

Umar bin Khattab, Khalifah yang Memanggul Beras

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Rasulullah yang istimewa. Bahkan, Keistimewaan beliau sudah terlihat sejak sebelum masuk Islam. Beliau adalah orang yang diharapkan keislamannya oleh Rasulullah.
Sebelum menjadi Islam, Umar adalah tokoh Quraisy yang sangat membenci Rasulullah. Umar menjadi kekuatan utama orang-orang Quraisy. Hingga Rasulullah berdoa, “Ya Allah, jadikan Islam ini kuat dengan masuknya Islam satu dengan kedua orang ini. Umar bin Khattab dan Amr bin Hisham.”
Doa Rasulullah dikabulkan Allah. Umar bin Khattab masuk Islam. Setelah itu, Umar bin Khattab selalu mendampingi Rasulullah melawan musuh-musuh Islam. Hingga saatnya, beliau diangkat menjadi khalifah kedua, setelah Abu Bakar ash-Shiddiq.
Sebagai khalifah, Umar bin Khattab sangat memperhatikan kehidupan rakyatnya. Salah satunya adalah kisah tentang Umar bin Khattab yang memanggul karung beras.
Suatu malam, Umar bin Khattab berjalan-jalan untuk melihat keadaan rakyatnya. Bersama sahabatnya, Aslam, Khalifah Umar menuju suatu kampung terpencil. Kampung itu berada di tengah-tengah gurun yang sepi.
Tiba-tiba, Umar mendengar suara tangis seorang anak. Tangisan yang berkepanjangan itu datang dari sebuah kemah yang sudah rombeng. Umar bin Khattab dan Aslam bergegas mendekati kemah itu umtuk melihat kondisi penghuninya.
Setelah dekat, Umar melihat seorang perempuan tua tengah menjerangkan panci di atas tungku api. Asap mengepul dari panci itu. Sementara si ibu terus saja mengaduk-aduk isi panci dengan sebuah sendok kayu yang panjang.
“Assalamu’alaikum,” Umar memberi salam.
“Wa’alaikumussalam,” jawab sang wanita.
“Bolehkah kami mendekat?” Tanya Umar lagi.
“Silahkan!” jawab wanita itu. Dia tak mengenali orang yang datang kepadanya adalah Khalifah Umar.
“Kenapa anak-anak itu menangis?” Umar menanyakan keadaan anak-anak si wanita.
“Mereka kelaparan. Mereka tidak mendapatkan makanan sehari ini,” jawabnya.
“Apa yang engkau masak di atas api itu?” Umar bertanya lagi.
“Kau lihatlah sendiri,” jawab wanita itu jelas.
Seketika, Umar bin Khattab terkejut. Ternyata wanita itu memasak batu.
“Engkau memasak batu, wahai ibu?” Tanya Khalifah Umar.
“Aku memasak batu, untuk menenangkan anak-anakku hingga mereka tertidur karena kelelahan menangis. Inilah kejahatan Khalifah Umar bin Khattab. Ia tidak mau melihat apakah kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum. Sungguh Umar bin Khattab tidak pantas jadi pemimpin.”
Ucapan wanita itu sangat menyentak hatinya. Umar pun segera keluar sambil menahan tangisnya.
Umar bin Khattab segera berlari pulang. Beliau langsung menuju gudang tempat penyimpanan gandum. Dikeluarkannya sekarung gandum dan satu ember daging. Lalu beliau berkata kepada Aslam, “Wahai Aslam, naikkan karung ini ke atas pundakku.”
“Tidak. Biar aku saja yang membawanya untukmu, wahai Amirul Mukminin,” kata Aslam.
“Tidak. Apakah engkau mau memikul dosaku kelak di hari kiamat?” kata Umar dengan tegas.
Aslam tak kuasa menolak permintaan Umar. Dia lalu mengangkat karung itu ke atas pundak Umar. Umar bergegas berjalan mendatangi kembali tempat wanita itu, sambil memanggul sekarung gandum.
Sesampai di tenda, Umar segera meletakkan karung gandum. Beliau lalu memasak gandumdan daging untuk sang wanita dan anak-anaknya tersebut.
“Bawa kesini piring-piring kalian!” kata Umar kepada sang wanita.
Umar lalu menuangkan makanan ke dalam piring-piring itu dan menghidangkannya kepada anak-anak wanita itu seraya berkata, “Makanlah!”
Anak-anak itu langsung memakannya. Mereka sangat menikmati makanan yang dihidangkan Umar bin Khattab hingga merasa kenyang.
Wanita itu pun sangat berterimakasih kepada Umar. Dia berdoa agar Allah member ganjaran
setimpal kepadanya.
Sebelum pergi, Umar berpesan kepada wanita tersebut untuk datang ke kota, menemui khalifah.
 “Datanglah menemui Khalifah Umar bin Khattab, karena dia akan membagikan santunan.”
Keesokan harinya, wanita itu pergi ke Madinah. Ketika wanita tersebut bertemu dengan Khalifah Umar, betapa terkejutnya dia. Ternyata orang yang memanggul dan memasak gandum tadi malam adalah Khalifah Umar bin Khattab.

Sumber : Majalah Adzkia edisi 90 / November 2013

3.Kisah Teladan Khalifah Utsman bin Affan

Kedermawanan Ustman bin Affan

Utsman bin Affan memang sangat kaya. Beliau memiliki kekayaan ternak lebih banyak dari orang Arab lainnya. Namun hartanya tidak digunakan untuk bermewah-mewah. Sebaliknya, harta kekayaannya digunakan untuk kepentingan umat Islam.
Saat menjelang Perang Tabuk, Utsman bin Affan pernah menyumbangkan seribu dinar. Beliau juga pernah membeli sebuah sumur bernama “Rumah”, lalu menyedekahkannya kepada kaum muslimin. Dan beliau pernah menyumbang sembilan unta yang penuh dengan perbekalan kepada Nabi Muhammad Saw. dan pasukannya ketika mereka kesulitan dalam peperangan. Hingga Rasulullah pun mendoakan Utsman, “Ya Allah, berilah Utsman. Ya Allah, berbuat baiklah terhadap Utsman.”
Pada masa Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq, Madinah mengalami masa paceklik. Hujan cukup lama tidak turun. Pepohonan layu tanpa buah. Bahan makanan sangat langka. Sebagian orang mulai kelaparan. Orang-orang lalu mendatangi Khalifah Abu Bakar untuk mengadukan nasib mereka.
“Wahai Khalifah penerus risalah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan, bumi tidak menumbuhkan bahan makanan, manusia sedang menuju kebinasaan. Jalan keluar apa yang engkau berikan?” kata mereka.
Khalifah Abu Bakar menjawab, “Tenanglah bersabarlah dan kembalilah kalian ke rumah masing-masing. Insyaallah, kafilah dagang Utsman bin Affan akan datang dari Syam dan besok sampai di Madinah.
Keesokan harinya, kafulah dagang Utsman bin Affan benar-benar sampai Madinah. Kafilah itu terdiri dari seribu unta yang membawa bahan makanan yang melimpah ruah. Semuanya langsung ditata di dalam gudang milik Utsman bin Affan.
Penduduk Madinah menyambutnya dengan hati gembira. Para pedagang dan tengkulak langsung menyerbu Utsman.
“Apa yang kalian inginkan?” tanya Utsman.
“Juallah barang daganganmukepada kami. Orang-orang sangat memerlukannya,” jawab seorang pedagang.
“Dengan senang hati. Berapa keuntungan yang akan kau berikan kepadaku?” tanya Utsman.
“Dua atau tiga dirham,” jawab para pedagang.
“Bisakah kalian menambahnya?” Utsman menawar.
“Baik, empat dirham, bagaimana?” jawab mereka.
“Bisakah ditambah lagi?”
“Lima dirham!”
“Ah masih kurang, bisa ditambah lagi?” desak Utsman bin Affan.
“Di Madinah ini tidak ada pedagang selain kami. Dan kamilah orang yang pertama datang kepadamu, tak ada yang mendahului kami. Siapa yang akan memberikan keuntungan yang lebih besar dari kami?” kata seorang pedagang dengan nada marah.
Utsman menjawab dengan tenang. “Allah Swt. memberiku keuntungan sepuluh dirham untuk setiap satu dirham. Apakah kalian berani lebih dari sepuluh dirham?”
“Tidak!!!” jawab para pedagang spontan.
“Kalau begitu, saksikanlah, aku bersaksi kepada Allah bahwa aku meyedekahkan semua barang dagangan dan makanan yang aku bawa dari Syam kepada seluruh fakir miskin dan penduduk Madinah yang membutuhkan. Ini semua aku sedekahkan karena Allah semata,” ucap Utsman mantap.
Ya, Utsman bin Affan menolak menjual barang dagangannya kepada pedagang. Beliau lebih suka menyedekahkannya kepada kaum muslimin. Beliau lebih mencintai apa yang dijanjikan Allah daripada keuntungan duniawi.

Utsman bin Affan, Saudagar yang Dermawan

Utsman bin Affan adalah sahabat Rasulullah yang istimewa. Beliau tergolong orang yang pertama masuk Islam, dan sahabat yang dijamin masuk jannah. Beliau menjadi khalifah ketiga, menggantikan Amirul Mukminin Umar bin Khattab. Beliau juga dikenal sebagai seorang yang kaya raya, namun sangat dermawan.
Utsman bin Affan terkenal dengan kedermawanannya. Beliau gemar bersedekah. Membantu kaum muslimin yang membutuhkan. Juga membantu perjuangan dan dakwah Rasulullah Saw. Keislaman Utsman bin Affan menjadi berkah bagi umat Islam masa itu.
Tahun kesembilan hijriah, Rasulullah dan kaum muslimin bersiap menghadapi perang Tabuk. Perang Tabuk adalah perang kaum muslimin melawan pasukan Romawi. Waktu itu, pasukan Romawi dikabarkan bersiap menyerang kaum muslimin. Maka Rasulullah pun menyiapkan pasukannya.
Rasulullah membutuhkan berbagai perlengkapan, perbekalan, dan orang-orang untuk menjadi prajurit. Tetapi, ternyata kaum muslimin kekurangan perbekalan. Banyak orang yang ingin ikut berperang, tetapi ditolak oleh Rasulullah karena kekurangan perbekalan. Mereka pun terpaksa kembali dengan mata yang berlinang. Sedih tak bisa ikut berjuang.
Pada saat itulah, Rasulullah naik ke atas mimbar. Beliau menganjurkan umat Islam untuk mengerahkan segala kemampuan mereka dan menjanjikan mereka dengan balasan yang besar.
Mengetahui kaum muslimin dalam kesulitan, segera Utsman berdiri dan berkata kepada Rasulullah, “Aku akan memberikan 100 unta lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”
Kemudian Rasulullah turun satu anak tangga dari mimbarnya. Beliau terus mengajak umat Islam untuk menyumbangkan apa yang mereka punya. Maka, untuk kedua kalinya Utsman berdiri dan berkata, “Aku akan memberikan 100 unta lagi, lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”
Wajah Rasulullah menjadi cerah. Beliau turun satu anak tangga lagi dari mimbar, dan terus menyerukan umat Islam untuk mengerahkan segala yang mereka miliki. Utsman berdiri lagi untuk ketiga kalinya dan berkata, “Aku akan memberikan 100 unta lagi lengkap dengan bekalnya, ya Rasulullah!”
Rasulullah pun menunjuk kearah Utsman, sambil tersenyum gembira. Beliau bersabda, “Utsman setelah hari ini tidak akan pernah kesulitan!”
Dan sebelum Rasulullah Saw. turun dari mimbarnya, Utsman berlari pulang ke rumah. Ia segera mengirimkan semua unta yang dijanjikannya ditambah dengan 1000 dinar emas.
Utsman segara meletakkan uang emas dipangkuan Rasulullah. Rasulullah menerimanya, seraya bersabda, “Semoga Allah Swt. akan mengampunimu, ya Utsman, atas sedekah yang kau berikan secara terang-terangan maupun sembunyi. Semoga Allah juga akan mengampuni segala sesuatu yang ada pada dirimu, dan apa yang telah Ia ciptakan hingga terjadinya hari kiamat.”
Utsman bin Affan selalu peduli dengan kesulitan orang lain tanpa mengharapkan imbalan apa-apa kecuali ridha Allah swt.

Sumber : Majalah Adzkia edisi 91 / Desember 2013

4.Kisah Teladan Khalifah Ali bin Abu Thalib

Ali bin Abu Thalib dan Orang Yahudi

     Pada masa pemerintahan Khalifah Ali bin Abu Thalib, beliau pernah kehilangan baju besinya yang terjatuh dari kuda miliknya. Setelah dicari kemana-mana, ternyata baju besi itu sudah berada di tangan seorang yahudi. Akan tetapi, setelah diminta, orang yahudi itu tetap mempertahankan baju besi tersebut dan mengakuinya sebagai miliknya sendiri. Meski Ali bin Abu Thalib pada saat itu sebagai orang nomor satu kaum muslimin, namun tidak begitu saja mengambil paksa baju besi miliknya yang hilang. Beliau disitu sebagai penuntut dan disuruh menyiapkan 2 orang saksi. Hakim pun menyuruhnya demikian.
      Akhirnya beliaupun menyiapkan 2 orang saksi yaitu seorang pembantunya dan Hasan, anaknya sendiri. Akan tetapi hakim hanya dapat menerima kesaksian dari pembantu Ali, dan tidak dapat menerima kesaksian dari Hasan karena adanya hubungan dekat dengan Khalifah Ali r.a, yaitu antara anak dengan orang tua.
      Maka, hakim akhirnya memutuskan bahwa orang yahudi tersebut memenangkan perkara tersebut. Dan Khalifah Ali r.a pun menerima dengan lapang dada apa yang telah menjadi keputusan dari hakim tersebut.
     Dalam kasus tersebut, apa yang dilakukan oleh hakim dan Khalifah Ali r.a sebagai pemimpin negara menunjukkan betapa mulianya ajaran Islam dalam masalah hukum dan keadilan. Dalam Islam, keadilan tidak boleh memandang hubungan kekerabatan maupun agama. Begitu juga dengan Allah SWT, Dia akan menghukum siapa saja tanpa pandang bulu, seandainya orang tersebut memang benar-benar bersalah. Allah SWT tidak memandang pangkat, rupa dan status sosial seseorang, tetapi Allah SWT melihat seseorang itu dari bagaimana perbuatan yang telah dilakukan selama hidup di dunia.
     Seiring berjalannya waktu, pada akhirnya orang yahudi tersebut mengakui bahwa baju besi itu memang kepunyaan Khalifah Ali bin Abi Thalib yang ditemukannya di jalan. Setelah melapor kepada Sang Khalifah, baju besi tersebut akhirnya dikembalikan sekaligus orang yahudi tersebut menyatakan diri masuk Islam.
Diunduh pada tanggal 4 April 2014 pukul 17.49
Ali bin Abi Thalib, Khalifah yang Mencintai Ukhuwwah
     Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali bin Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.
     Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdoa: “Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik ‘arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay’ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim.”
     Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah bin Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur’an di tangan kanannya: “Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur’an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur’an ini dengan tangan yang lain. Jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh.”
     Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur’an kepada anak muda itu, “Bawalah Al-Qur’an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan Al-Qur’an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian.”
     Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur’an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.
     Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali bin Abi Thalib. Ali mengucapkan do’a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. “Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka.”
Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu’awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur’an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.
Sumber : http://namakugusti.wordpress.com/2010/08/07/sebuah-teladan-dari-ali-bin-abi-thalib/
Diunduh pada tanggal 4 April 2014 pukul 17.55
Share:

0 komentar:

Posting Komentar

Diberdayakan oleh Blogger.

Labels

Labels

Blogger templates